Beranda / Berita / Pendidikan
Pendidikan

Saat Tulisan Sederhana Membuka Gerbang Masa Depan

Dhian Juwita Putri
Dhian Juwita Putri 13 Jun 2026
Saat Tulisan Sederhana Membuka Gerbang Masa Depan
Foto: Dokumentasi IC

Pendidikan merupakan landasan utama bagi kemajuan sebuah bangsa. Sayangnya, akses terhadap pendidikan yang layak masih menjadi tantangan besar di beberapa sudut kota, termasuk Jakarta. Di kawasan padat seperti Kelurahan Pekojan, banyak anak usia sekolah yang membutuhkan pendampingan tambahan untuk mengejar ketertinggalan pelajaran mereka. Masalah ini menjadi semakin mendesak jika kita melihat data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mengenai Angka Anak Tidak Sekolah (ATS). Di tingkat SD/Sederajat, angka anak tidak sekolah berada di angka 0,67%, sementara di tingkat SMP/Sederajat, angkanya melonjak signifikan menjadi 6,93%.


Menjawab tantangan tersebut, lembaga non-pemerintah Indonesian Care (IC) hadir dengan program bimbingan belajar gratis bagi anak-anak SD dan SMP. Program ini diadakan untuk memberikan ruang belajar yang nyaman dan suportif, meliputi pengajaran bahasa Inggris, matematika, hingga kemampuan dasar membaca dan menulis. Pada hari Rabu, 11 Februari 2026, bertempat di kantor Kelurahan Pekojan, dilakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana perkembangan anak-anak setelah mengikuti bimbingan ini selama beberapa waktu.


Momen evaluasi ini memberikan sudut pandang baru terhadap realitas pendidikan di lapangan. Salah satu hal yang paling mengesankan adalah keberhasilan program ini dalam menjangkau anak-anak yang sebelumnya tidak sekolah. Berkat kesabaran para pengajar dari Indonesian Care, beberapa anak yang awalnya sama sekali tidak mengenal huruf kini sudah bisa membaca dan menulis dengan lancar. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa jika diberikan kesempatan dan metode yang tepat, setiap anak memiliki potensi untuk berkembang.


Metode evaluasi yang digunakan pun sangat unik dan jauh dari kesan kaku. Alih-alih ujian tertulis atau wawancara yang menegangkan, anak-anak diajak berinteraksi melalui catatan kecil di sticky notes. Mereka diminta menuliskan jawaban atas beberapa pertanyaan pada kertas berwarna-warni tersebut, lalu membacakannya di depan teman-teman lainnya. Cara ini terbukti efektif untuk melihat kemampuan literasi mereka secara langsung tanpa membuat mereka merasa tertekan. Penggunaan sticky notes ini menjadi solusi bagi anak-anak yang memiliki sifat pemalu. Sering kali, anak-anak merasa takut salah saat berbicara langsung, namun melalui tulisan, mereka merasa lebih bebas untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Perubahan ekspresi dari yang tadinya ragu-ragu menjadi bangga saat berhasil membacakan tulisan sendiri adalah sebuah kemajuan luar biasa yang tidak bisa diukur hanya dengan nilai angka di sekolah.


Namun, di tengah kemajuan tersebut, masih ditemukan tantangan terkait minat belajar bahasa Inggris. Beberapa anak secara jujur mengungkapkan ketidaksukaan mereka terhadap mata pelajaran ini karena dianggap sulit atau asing. Kondisi ini sebenarnya dapat dicegah jika pendidikan bahasa Inggris diberikan dengan cara yang menyenangkan sejak usia dini. Di era globalisasi seperti sekarang, kemampuan bahasa asing bukan lagi sekadar nilai tambahan, melainkan bekal utama agar generasi muda kita mampu bersaing di kancah internasional.


Pentingnya pendidikan baca-tulis juga didukung oleh data angka buta aksara nasional tahun 2024 dari Badan Pusat Statistik. Meskipun secara umum angka buta aksara di Indonesia terus ditekan, pada kelompok umur tertentu masih terdapat persentase masyarakat yang belum mengenal huruf, yaitu sebesar 3,33% pada penduduk usia 15 tahun ke atas. Jika dirinci, angkanya adalah 0,43% pada usia 15-44 tahun, dan masih terdapat 7,66% pada kelompok usia 45 tahun ke atas. Kehadiran program seperti bimbel gratis dari Indonesian Care memiliki peran dalam memastikan angka ini tidak bertambah di masa depan, terutama bagi anak-anak yang memiliki kendala dalam bersekolah.


Berdasarkan evaluasi program, cara mengajar yang "menyenangkan" adalah kunci utama mengapa anak-anak di Pekojan begitu betah belajar di Indonesian Care. Belajar tidak harus selalu duduk diam dan mendengarkan ceramah satu arah. Dengan pendekatan yang lebih suportif, anak-anak jadi merasa bahwa belajar itu seru, bukan beban yang memberatkan. Kemajuan yang terlihat pada anak-anak tidak berkesempatan sekolah menjadi bukti kuat bahwa program ini harus terus dipertahankan dan dikembangkan lebih luas lagi.


Kolaborasi antara masyarakat, organisasi kemanusiaan seperti Indonesian Care, dan pemerintah setempat harus diperkuat untuk memfasilitasi anak-anak yang putus sekolah. Perlu ada pemetaan yang lebih detail mengenai sebaran anak tidak sekolah di wilayah pemukiman padat agar pemberian pendidikan bisa dilakukan lebih awal. Dengan demikian, tidak ada lagi anak yang tertinggal hanya karena masalah biaya atau akses.


Untuk mengatasi kebosanan terhadap pelajaran sulit seperti bahasa Inggris atau matematika, metode pembelajaran berbasis permainan dapat lebih sering diterapkan. Selain itu, pemberian pemahaman sejak dini tentang manfaat jangka panjang dari setiap pelajaran akan membantu meningkatkan motivasi internal anak. Jika mereka tahu bahwa bahasa Inggris bisa membuka pintu dunia bagi mereka, rasa enggan untuk belajar perlahan akan berubah menjadi rasa ingin tahu yang besar.


Pendidikan sejak dini adalah investasi terbaik yang bisa kita berikan untuk masa depan bangsa. Program bimbingan belajar gratis dari Indonesian Care di Pekojan telah menunjukkan hasil nyata dalam meningkatkan kemampuan literasi dan rasa percaya diri anak-anak, baik yang bersekolah maupun yang tidak. Setiap coretan di atas sticky notes yang mereka buat adalah langkah kecil menuju impian yang lebih besar.


Negara dan seluruh lapisan masyarakat harus hadir untuk menjamin hak pendidikan setiap warga negara tanpa terkecuali. Melalui semangat keadilan sosial, kita harus terus mendukung program-program edukasi mandiri yang mampu menyentuh langsung akar rumput. Generasi yang maju tidak lahir secara kebetulan, melainkan dibentuk melalui kepedulian, kesabaran, dan pendidikan yang berkualitas sejak langkah pertama mereka.

 

Kategori:

Baca Selanjutnya