Beranda / Berita / Pendidikan
Pendidikan

CARE: Cakrawala Anak Rusun untuk Edukasi (Program Pendidikan Kaum Marginal oleh Indonesian Care Jakarta)

Dhian Juwita Putri
Dhian Juwita Putri 27 Apr 2026
CARE: Cakrawala Anak Rusun untuk Edukasi (Program Pendidikan Kaum Marginal oleh Indonesian Care Jakarta)
Foto: Dokumentasi IC

Isu pendidikan anak dan remaja kembali menjadi perhatian serius di Indonesia, bahkan di pusat metropolitan seperti Jakarta. Meski menyandang status sebagai Kota Sastra pilihan UNESCO, data BPS DKI Jakarta tahun 2022 menunjukkan bahwa 64.556 penduduk berusia di atas 15 tahun masih buta aksara, atau sekitar 0,78 persen dari total populasi usia tersebut. Angka ini mengungkap ironi besar: kota dengan fasilitas modern dan akses teknologi justru masih menyimpan persoalan mendasar dalam kemampuan membaca dan menulis. Minimnya literasi sejak dini memperlihatkan bahwa ketimpangan kualitas pendidikan tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga di pusat kota yang dianggap maju.


Kesenjangan ini semakin diperparah oleh hambatan administratif, seperti tidak adanya Kartu Keluarga (KK) atau KTP yang membuat sebagian warga, terutama anak dan remaja dari keluarga rentan, kesulitan mengakses layanan pendidikan formal. Di tengah kota besar, dokumen identitas sering menjadi syarat utama pendaftaran sekolah, sehingga mereka yang hidup dalam situasi sosial kompleks kerap tersisih dari ruang belajar yang seharusnya terbuka untuk semua. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Jakarta bukan sekadar soal fasilitas, tetapi juga tentang akses, relasi sosial, dan kemampuan sistem untuk menjangkau kelompok paling rentan.


Dalam konteks inilah berbagai program pendidikan Indonesian Care menjadi relevan sebagai contoh intervensi berbasis masyarakat yang menempatkan karakter anak sebagai fokus utama. Melalui kegiatan seperti bimbingan belajar, kelompok futsal, taman bacaan, hingga pendidikan paket A, B, dan C, pendekatan ini melibatkan siapa saja yang terdampak, anak-anak usia sekolah, pemuda putus sekolah, hingga petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) yang membutuhkan kesempatan belajar. Program tersebut hadir di mana masalah itu berkembang, yakni di Rusun Cakung Barat, sebuah kawasan yang sebelumnya dihuni warga relokasi dengan latar sosial yang cukup kompleks. Pelaksanaan kegiatan yang rutin dilakukan setiap minggu menunjukkan kapan komitmen itu terus dijaga, sementara kurikulum informal yang disusun menggambarkan bagaimana proses pendampingan dilakukan secara perlahan dan penuh kesabaran. Semua ini menjelaskan mengapa pembinaan karakter melalui pendidikan alternatif menjadi kebutuhan mendesak bagi komunitas marginal, khususnya mereka yang rentan kehilangan arah.


Program Indonesian Care memperlihatkan bahwa pendidikan informal dapat menjadi jembatan penting bagi anak dan remaja yang sempat kehilangan akses belajar. Pendampingan belajar tidak hanya membantu memulihkan kemampuan akademik, tetapi juga mengembalikan keyakinan bahwa lingkungan sekolah merupakan tempat yang aman untuk berkembang. Pendekatan berbasis komunitas ini mengungkap bahwa persoalan pendidikan kerap berakar pada relasi sosial yang renggang, baik antara anak dan keluarga maupun antara anak dan lingkungan sekolah. Melalui pendampingan yang dilakukan secara perlahan, relasi baru yang lebih sehat mulai terbentuk, sehingga proses pembinaan karakter terasa lebih natural dan diterima. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi juga pada kualitas hubungan yang terbangun di sekeliling anak.


Pendidikan paket A, B, dan C menunjukkan bahwa banyak pemuda bukan tidak ingin belajar, tetapi tidak memiliki lingkungan yang mampu mempertahankan motivasi mereka dari hari ke hari. Kegiatan seperti futsal dan taman bacaan kemudian hadir sebagai ruang pendukung yang memungkinkan mereka menemukan kembali minat, disiplin, dan kebiasaan positif. Aktivitas semacam ini membuktikan bahwa pembinaan karakter membutuhkan metode yang menyenangkan dan relevan agar anak dan remaja merasa terhubung dengan proses belajar. Tantangannya adalah memastikan kegiatan tersebut berjalan konsisten dan mampu menjadi rutinitas yang membentuk pola hidup yang lebih baik. Refleksi ini menegaskan bahwa pendidikan yang efektif harus mampu merespons kebutuhan sosial dan emosional generasi muda secara lebih personal dan kreatif.


Pelatihan komputer membantu anak dan remaja mengenal keterampilan digital dasar yang penting untuk masa depan mereka. Sementara itu, karang taruna menjadi ruang bagi pemuda untuk belajar berorganisasi, membangun kedisiplinan, berlatih mengambil keputusan, serta menumbuhkan semangat bergotong royong. Kedua kegiatan ini menunjukkan bahwa pengembangan karakter membutuhkan kombinasi antara keterampilan praktis dan pengalaman sosial yang nyata. Namun, tetap dibutuhkan jembatan yang lebih konkret antara pembelajaran yang diperoleh dengan peluang yang tersedia di luar komunitas, agar dampaknya tidak berhenti pada kegiatan internal tetapi benar-benar mendorong kemajuan hidup peserta.


Pendampingan jangka panjang Indonesian Care mengajarkan bahwa pemberdayaan tidak bisa dibangun dari bantuan instan. Model yang menempatkan warga sebagai subjek utama membuat perubahan terasa lebih organik dan berkelanjutan. Tantangan keberlanjutan tetap ada karena pendekatan seperti ini membutuhkan waktu, tenaga, dan komitmen besar. Meski demikian, proses perlahan dengan empati ini menjadi contoh penting bagi pendidikan komunitas di Indonesia.


Solusi pendidikan berkelanjutan dapat diperkuat melalui kolaborasi antara pendamping masyarakat, sekolah, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi. Indonesian Care dapat mengintegrasikan kegiatan pendidikan dengan program pengembangan keterampilan atau peluang ekonomi agar dampaknya lebih luas. Pemantauan perkembangan peserta juga penting agar program tetap relevan. Langkah-langkah ini dapat memperkuat fondasi karakter sekaligus membuka jalan bagi kemandirian warga.


Inisiatif Indonesian Care menunjukkan bahwa pembentukan karakter dan pendidikan membutuhkan proses yang konsisten dan mendalam. Pendekatan yang mengutamakan kemandirian warga membuat komunitas dapat tumbuh tanpa ketergantungan. Dengan dukungan berbagai pihak, model ini berpotensi diterapkan di lingkungan lain yang menghadapi tantangan serupa. Upaya ini mengingatkan bahwa pendidikan yang bermakna selalu berangkat dari kedekatan, empati, dan komitmen jangka panjang.

Kategori:

Baca Selanjutnya